Friday, April 16, 2021

RANGKUMAN MODUL 1 KB 1 PERSPEKTIF PENDIDIKAN SD, IG. A. K. WARDANI, DKK

Sobat UT, kami membuat 3 buah rangkuman untuk sobat UT tentang MODUL 1 KB 1 PERSPEKTIF PENDIDIKAN SD, IG. A. K. WARDANI, DKK. 

RANGKUMAN DALAM BUKU TEKS

 1. Pandangan filosofis adalah cara melihat pendidikan dasar dari hakikat pendidikan dalam kehidupan manusia. Pertanyaan filosofis yang akan kita bahas adalah untuk apa pendidikan Sekolah Dasar dikembangkan.

 2. Pandangan psikologis-pedagogis atau psiko-pedagogis adalah cara melihat pendidikan dasar dari fungsi proses pendidikan dasar dalam pengembangan potensi individu sesuai dengan karakteristik psikologis peserta didik. Pertanyaan psiko-pedagogis yang relevan dengan fungsi proses itu adalah bagaimana pendidikan dasar dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didiknya.

 3. Pandangan sosiologis-antropologis atau sosio-antropologis adalah cara melihat pendidikan dasar dari fungsi proses pendidikan dasar dalam sosialisasi atau pendewasaan peserta didik dalam konteks kehidupan bermasyarakat, dan proses enkulturasi atau pewarisan nilai dari generasi tua kepada peserta didik yang sedang mendewasa dalam konteks pembudayaan.

 4. Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) merupakan salah satu bentuk pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dalam jalur pendidikan formal di Indonesia pada saat ini. Bentuk pendidikan ini secara operasional dilaksanakan sebagai satuan pendidikan masing masing sekolah,




 5. Ada beberapa argumen tentang keniscayaan pendidikan untuk usia itu. Pertama, pelembagaan proses pendidikan untuk usia dalam sistem pendidikan persekolahan atau schooling system, diyakini sangat strategis, artinya sangat tepat dilakukan, untuk mempengaruhi, mengondisikan, dan mengarahkan perkembangan mental, fisik, dan sosial anak dalam mencapai kedewasaannya secara sistematik dan sistemik. Kedua, proses pendewasaan yang sistematik dan sistemik itu diyakini lebih efektif dan bermakna. artinya lebih memberikan hasil yang baik dan menguntungkan, daripada proses pendewasaan yang dilepas secara alami dan kontekstual melalui proses sosialisasi atau pergaulan dalam keluarga dan masyarakat dan enkulturasi atau pembudayaan interaktif dalam kehidupan budaya semata-mata. Ketiga, berbagai teori psikologi khususnya teori belajar yang menjadi landasan konseptual teori pembelajaran, seperti teori behaviorisme, kognitifisme, humanisme; dan sosial.

 6. Filsafat pendidikan seperti perenialisme, yang menekankan pentingnya pewarisan kebudayaan, esensialisme, yang menekankan pada transformasi nilai esensial. progresifisme, yang menekankan pada pengembangan potensi individu, dan rekonstruksionalisme sosial, yang menekankan pengembangan individu untuk perubahan masyarakat sangat mendukung proses pendewasaan anak melalui pendidikan persekolahan. Tentu saja tanpa mengesampingkan teori soscio-historical dan teori experiential learning yang menekankan pada proses belajar melalui interaksi sosial-kultural dan belajar melalui pengalaman.

 7. Piaget menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah duplikat dari objek, dan bukan pula sebagai tampilan kesadaran dari bentuk yang ada dengan sendirinya dalam diri individu. Pengetahuan sesungguhnya merupakan konstruksi pikiran yang terbentuk, karena secara biologis adanya interaksi antara organisme dengan lingkungan, dan secara kognitif adanya interaksi antara pikiran dengan objek.

 8. Secara teoritik perkembangan kognitif mencakup tiga proses mental yakni assimilation, accomodation, dan equilibration. Yang dimaksud dengan assimilation atau asimilasi adalah integrasi data baru dengan struktur kognitif yang sudah ada dalam pikiran. Contohnya, ketika kita melihat benda asing berupa pesawat terbang. proses mental yang terjadi adalah mencari apakah konsep benda asing itu ada dalam pikiran kita dengan bertanya "ini benda apa ya?". Sementara itu accomodation atau akomodasi menunjuk pada proses penyesuaian struktur kognitif dengan situasi baru. Contohnya, bila ternyata konsep benda asing itu belum ada dalam pikiran kita, kemudian kita mencoba mencari tahu apa sesungguhnya pesawat terbang. Dengan menggunakan konsep lain ada di dalam pikiran kita, misalnya layang-layang, dan lain-lain kemudian kita mencoba membangun pengertian baru tentang konsep pesawat terbang. Dengan begitu kita mendapatkan pengetahuan baru tentang konsep pesawat terbang. Sedangkan equilibration atau ekuilibrasi adalah proses penyesuaian yang sinambung antara asimilasi dan akomodasi. Contohnya, jika suatu waktu ada benda asing lain yang pada dasarnya mirip dengan pesawat terbang dalam pikiran kita akan terjadi proses adaptasi untuk memahami benda asing itu sampai kita mendapatkan pengertian yang utuh dan pada akhirnya kita mengerti konsep pesawat terbang secara umum.

 9. Anak usia SD/MI berada dalam tahap perkembangan kognitif Praoperasional sampai Konkret. Pada usia ini anak memerlukan bimbingan sistematis dan sistemik guna membangun pengetahuan nya. Oleh karena itu, peran pendidikan di SD/MI sangatlah strategis bagi pengembangan kecerdasan dan kepribadian anak.

 10. Secara sosial-kultural aktivitas mental merupakan sesuatu hal yang unik hanya pada manusia. Hal itu merupakan produk dari belajar sosial atau social learning, yakni proses penyadaran simbol-simbol sosial dan internalisasi kebudayaan dan hubungan sosial. Kebudayaan diinternalisasi dalam bentuk sistem neuropsikis yang merupakan bagian dari bentuk aktivitas fisiologis dari otak manusia. Aktivitas mental yang tinggi memungkinkan pembentukan dan perkembangan proses mental manusia yang lebih tinggi.

 11. Aktivitas mental yang sangat tinggi dalam diri manusia bukanlah semata-mata sebagai aktivitas syaraf tertinggi tetapi merupakan aktivitas syaraf tertinggi yang telah menginternalisasi makna sosial yang diperoleh dari aktivitas budaya manusia melalui simbol simbol. Proses ini pada dasarnya bersifat historis yang terjadi sejak masa perkembangan ontogenetik dan berlangsung melalui aktivitas sosial anak dengan orang dewasa yang memungkinkan individu mampu menangkap makna sosial.

 12. Dengan menggunakan teori sosial kultural, proses pendidikan di SD/MI seyogianya diperlakukan sebagai proses pertumbuhan kemampuan dalam diri individu sebagai produk interaksi antara kemampuan intramental dan intermental individu dalam konteks sosial-kultural, lingkungan sosial-kultural.

 13. Pendekatan humanistik memiliki karakteristik: (a) Menjadikan peserta didik sendiri sebagai isi, yakni mereka sendiri belajar tentang perasaannya dan perilakunya; (b) Mengenal bahwa imajinasi peserta didik seperti dicerminkan dalam seni, impian, cerita, dan fantasi sebagai hal yang penting dalam kehidupan yang dapat dibahas bersama dengan teman sekelasnya; (c) Memberikan perhatian khusus terhadap ekspresi non-verbal seperti isyarat dan nada suara karena diyakini hal itu sebagai ungkapan perasaan dan sikap yang dikomunikasikan; (d) Menggunakan permainan, improvisasi, dan bermain peran sebagai wahana simulasi perilaku yang dapat dikaji dan diubah.

 14. Cara pandang sosiologis-antropologis atau sosio-antropologis adalah cara melihat pendidikan dasar dari fungsi proses pendidikan dasar dalam proses sosialisasi atau pendewasaan peserta didik dalam konteks kehidupan bermasyarakat, dan proses enkulturasi atau pewarisan nilai dari generasi tua kepada peserta didik yang sedang mendewasa dalam konteks pembudayaan. Pertanyaan pokok dalam kedua proses tersebut adalah bagaimana pendidikan dasar meletakkan dasar dan mengembangkan secara kontekstual sikap sosial dan nilai-nilai kebudayaan untuk kepentingan peserta didik dalam hidup bermasyarakat dan berkebudayaan.

 15. Dilihat secara sosiologis dan antropologis masyarakat dan bangsa Indonesia sangatlah heterogen dalam segala aspeknya. Oleh karena itu, walaupun kita secara konstitusional menganut satu sistem pendidikan nasional, instrumentasi atau pengelolaan sistem pendidikan itu tidaklah mungkin dilakukan secara homogen penuh. Masyarakat dan bangsa Indonesia memiliki fenomena yang bersifat pluralistik atau berbhinneka tetapi terikat oleh komitmen satu kesatuan tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan. akan mempengaruhi praksis atau kehidupan nyata pendidikan nasional kita, termasuk pendidikan Sekolah Dasar.

 16. Keseluruhan prinsip tersebut memberi implikasi terhadap kandungan, proses dan manajemen pendidikan nasional. Untuk itulah dalam sistem pendidikan kita saat ini diupayakan berbagai pembaharuan seperti kurikulum nasional yang bersifat sentralistik menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bersifat desentralistik: penerapan kurikulum yang berdiversifikasi untuk melayani keberagaman; dan pengembangan standar nasional pendidikan sebagai baku mutu pendidikan secara nasional.

 SUMBER:

Wardani, IG.A.K., dkk. (2020, cetakan ke-XX). Perspektif Pendidikan. Tangerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka.

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...