Puisi Cinta Terbaikku: Sesal Yang Terakhir

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

10 Kata Mutiara Inspirasi Motivasi Terbaik

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Cerpen Kisah Sedih dan Inspiratif: MAWAR UNTUK IBU

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Puisi Romantis Karya anak SD Kelas VI: Andai Janji Tak Pernah Dusta

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kisah Inspiratif dari Filipina: Kisah Seorang Anak di Hari NATAL

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label KISAH-KISAH YANG MENGGUGAH. Show all posts
Showing posts with label KISAH-KISAH YANG MENGGUGAH. Show all posts

Sunday, November 10, 2013

Inspirasi Renungan: Andalkanlah Tuhan Dalam Segala Perbuatanmu

Inspirasi Renungan: Andalkanlah Tuhan Dalam Segala Perbuatanmu | Cerita ini pernah saya dengar dari seorang pastor yang dulu menjadi pastor paroki di tempat saya. Saya baru-baru ini teringat kembali dan ingin membaginya dengan anda semua. 

Ceritanya tentang seorang anak umur 12 tahun dan ayahnya. Anak ini sungguh perkasa, bisa dibilang seperti itu. Ia cukup baik melatih fisiknya dengan mengikuti berbagai kegiatan seperti bela diri dan olahraga. Ia bahkan cukup kuat untuk anak seusianya.

Nah, suatu ketika, di dalam rumahnya, ia sedang membersihkan rumah bersama dengan ayahnya. Ia kemudian mulai memindahkan barang-barang yang ringan seperti kipas angin, meja, kursi dan perabotan lainnya. Sembari mengangkat, ia selalu berkata, "lihat ayah, betapa kuatnya aku." katanya dengan bangga. Ayahnya pun mengangguk tanda setuju.

Akhirnya hampir semua barang sudah diangkut dan dibersihkan. Lalu, tibalah ia pada sebuah lemari yang terbuat dari pohon ek. Lemari itu tidak terlalu besar, bahkan bisa dibilang hanya seukuran meja belajar. Ia mencoba mengangkat lemari itu, namun tidak bergeming sama sekali. Lalu ia merubah posisi dan mencoba menggesernya, dan lagi-lagi tak bergerak sama sekali. Ayahnya melihatnya dengan serius dan terus menatapnya.

Anak itu terus mencoba dan mencoba, namun lagi-lagi tak bergeming sama sekali. Ia sudah mulai putus asa. Ia terus mencobanya hingga peluh memenuhi bajunya. Dan lagi-lagi, lemari itu tak bergeming sama sekali. Ia pun terduduk dan berkesah, mengapa ia tak mampu mengangkatnya. Padahal beberapa benda sebelumnya sangat mudah ia angkat.

Dengan pandangan iba, ayahnya pun mendatanginya dan berkata "nak, ada waktunya ketika kamu mampu melakukan segala sesuatunya sendiri dengan kemampuanmu sendiri. Namun, ada kalanya ketika kamu tidak sanggup untuk menghadapi sesuatu dan membutuhkan orang lain untuk membantumu. Sedari tadi ayah memperhatikanmu, dan tidak sekalipun engkau meminta ayah untuk membantumu. Padahal, tenaga ayah cukup mampu untuk mengangkat lemari itu sendiri, apalagi berdua denganmu." kata ayahnya sembari mengusap wajah anaknya yang mulai berkaca-kaca, sedih dan tampak keletihan. Anaknya pun akhirnya menyadari, bahwa selama ini, ia selalu mengandalkan dirinya sendiri dan tidak mengharapkan bantuan dari siapapun. 

Padahal, dalam dunia ini, kita sangat membutuhkan orang lain untuk membantu kita mengangkat lemari yang berat itu, beban yang berat itu. Namun kita terkadang justru cukup puas dengan kemampuan diri sendiri. Padahal, ada Bapa kita di Surga. Ia mau dan tentu saja mampu untuk mengulurkan tangan-Nya untuk membantu dan menolong kita dalam segala keterbatasan kita. 

Dan Tuhan itu datang bukan dalam bentuk malaikat atau orang yang jauh, tapi Ia datang dalam bentuk orang terdekat kita, orang yang ada di sekitar kita. 

Maka janganlah takut atau gelisah, ketika kita tak sanggup lagi memanggul beban kita, maka datanglah kepada Tuhan, Dialah yang mampu untuk menanggung dan membebaskan kita dari segala pergumulan hidup dan kesusahan kita. Tetaplah berpegang teguh, dan yakinlah, Tuhan akan senantiasa mengulurkan tanganNya yang Kudus kepada siapa saja yang berseru kepadaNya. (Jufry Malino)

Renungan - Lebih Baik Menghibur daripada Dihibur

Renungan - Lebih Baik Menghibur daripada Dihibur | Sobat yang terkasih di dalam Tuhan, mengawali renungan pada hari ini, mari kita mulai dengan sebuah kisah inspiratif sederhana tentang seorang ibu dan kesedihannya yang tiada tara.

Ada seorang ibu, sebut saja namanya adalah bu Ana. Hari-harinya dipenuhi dengan pelayanan dan derma kepada orang-orang yang membutuhkan. Ia berasal dari keluarga yang kaya, suami yang baik, dan anak-anak yang ceria dan pandai. Lebih daripada itu, mereka semua mencintai Tuhan dalam setiap perkara kehidupannya. 

Ibu Ana sangat rajin mengikuti ibadah-ibadah ataupun segala bentuk pekerjaan sosial. Hal itu terus ia lakukan, sampai suatu hari, sebuah peristiwa yang tak disangkanya menghampirinya. Dalam waktu yang bersamaan, suaminya dan anak-anaknya yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, mengalami kecelakaan. Mereka semua meninggal dalam kecelakaan tragis itu.

Dan kecelakaan itu pun mengubah bu Ana. Hari-harinya ia ratapi. Ia selalu dirundung kesedihan. Dunia bak direnggut seutuhnya darinya. Dalam doanya, ia meratap kepada Tuhan mengapa Tuhan tega membiarkan hal itu terjadi bagi pihaknya. Bahkan, dalam permenungannya, ia bertanya-tanya, apakah Tuhan itu ada. Kalau memang ada, mengapa ia yang membaktikan diri dan keluarganya malah harus merasakan musibah seperti ini. Ia selalu dilanda kesedihan, kesedihan yang berlarut-larut. Hingga berbulan-bulan.

credit to: katolisitas.org
Bahkan, ketika ia diajak oleh rekan-rekan sepelayanan untuk kembali melayani, ia berkata kepada mereka "Teganya kalian, tak tahukah kalian kalau aku masih dirundung kesedihan, hatiku masih berduka? Bagaimana aku mau menghibur, aku sendiri butuh hiburan" katanya ketika tetangganya mengajaknya untuk menghibur sebuah keluarga yang juga baru saja kehilangan anak sulungnya.  

Namun, sembari menguatkan hati, ia pun mencoba bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti rekan sepelayanannya itu. 

Sesampai di tempat duka, suasana yang terjadi tak begitu berbeda saat seperti suasana yang dialami bu Ana paskah meninggalnya suami dan anak-anaknya tercinta. Lalu, ia melihat sang ibu dari anak yang meninggal, perasaannya kembali tergugah, merasakan kembali apa yang pernah ia alami. Lalu, ia menguatkan hati, ia menghampiri ibu itu, memeluknya, lalu ia menatapnya erat, mengannggukkan kepala, lalu iapun menangis bersama ibu tersebut.

Ibu Ana pun merasakan kepenuhan, kepenuhan dari kekosongan yang ia alami selama ini. Ia merasakan seperti Tuhan datang sendiri memeluknya dan berkata, "Mari kepadaKu, semua yang letih lesuh dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadaMu. Dan ingatlah kuk yang kupasang itu enak dan bebanku pun ringan".

Seketika itu juga, ibu Ana pun menyadari arti dari kehilangan. Ia menyadari bahwa memberi dari kekurangan seperti yang dilakukan si janda miskin memang lebih besar upahnya di Surga. Dan bahwa lebih baik untuk menghibur dari pada dihibur. Justru dalam kehilangannya dan kesedihannya dan kekurangannya, justru ibu Ana mampu memberikan yang terbaik lebih dari siapapun dan apapun di dunia ini. Dengan mengalami, ia mampu memberikan lebih dari yang dibutuhkan, bukan dari ukuran materi, tetapi dari ukuran kasih sayang yang Tuhan tunjukkan dalam kepenuhan iman, pengorbanan dan harapan.

 Nah, semoga apa yang dialami oleh bu Ana mampu membangkitkan semangat cinta kasih kita, dan untuk bangkit dari segala keterpurukan kehidupan dunia yang ingin menyesatkan kita. Mari, pandanglah dan datanglah kepada Tuhan, sebab kuk yang ia pasang di pundak kita rasanya enak dan bebannya pun ringan. (Jufry Malino)

Saturday, September 14, 2013

CERPEN: Ada dia Di Antara Kita, ATAU, Ada Aku Di Antara Kalian?

Ada dia Di Antara Kita, ATAU, Ada Aku Di Antara Kalian? - Seulas senyum mewarnai bibirnya ketika aku berjumpa dengan dirimya di gereja kala itu. Namun, kali ini, yang kurasakan bukanlah senyum yang tulus yang biasa ia lontarkan padaku. Aku pun menyadari posisi diriku yang memang sudah terlanjur menyesal karena telah mengabaikan dia selama ini.

Beberapa tahun yang lalu, aku mengenal seorang gadis belia saat aktif di kegiatan gereja. Sejak awal ia ternyata sudah menaruh hati padaku. Namun, karena kurang sensitif, atau karena memang kesibukanku, aku tak menyadari sinyal perhatian dan cinta yang ia berikan. Perlahan namun pasti, gejolak cintanya padaku semakin besar, sehingga memberanikan diri untuk mengungkapkannya padaku. Saat itu, tentu saja dengan sedikit refleks, aku agak kaget saja. Maklum, hatiku saat itu belum siap untuk memulai suatu hubungan setelah beberaa waktu sebelumnya aku masih terlalu intens dan sibuk pada kuliah dan tugas-tugasku.


Singkat kata, akhirnya aku luluh juga, dan terjalinlah sebuah cinta masa remaja. Namanya saja pacar, seorang wanita pasti membutuhkan yang namanya perhatian, namun, hal itu kurang aku berikan mengingat kesibukanku yang padat dan bertubi-tubi masalah yang menghampiriku. Dan, yang paling membuat hubungan kami berantakan adalah karena kesalahanku yang tidak percaya diri.

Yeah, sejak awal, saat aku menyatakan akan menjalin hubungan dengan seseorang, aku memastikan bahwa dialah yang akan menjadi pendampingku kelak. Tentu saja, saat kami sedang bersama, sebuah bisikan membius jantungku, "apakah kamu mampu membahagiakannya kelak? kamu kan tak punya apa-apa, harta aja gak punya". Bisikan itu terus mengganggu pikiranku, sehingga kemudian inilah yang menjadi keretakan hubungan kami. Karena merasa diri tidak mampu untuk membahagiakannya, maka aku mulai coba untuk menghindarinya walau sebenarnya cintaku padanya sangat amat teramat dalam. Yeah, ini adalah perasaan seorang pria yang memang belum dewasa sepenuhnya.

Hari berganti, waktu berlalu. Ia pun mencoba membuka diri dengan orang lain. Dan tentu saja aku sangat sakit hati melihatnya, hanya, aku selalu tersenyum dihadapan mereka. Hal ini kulakukan hanya agar ia bahagia. 

Beberapa kali ia mencoba untuk menjalin hubungan dengan orang lain, namun selalu saja gagal.

Terakhir, ia menjalin hubungan dengan seorang sahabat kami juga. Tentu saja ini menambah rasa sakit hatiku. Aku kemudian menyadari, bahwa ternyata cintaku padanya sangat amat teramat dalam. Aku mulai mencoba untuk mendapatkannya kembali, karna kuyakin dia masih mencintaiku.

Akupun mulai kembali untuk mencoba merebut hatinya. Dalam pikiranku, bahwa ia masih mencintaiku, maka aku berfikir juga bahwa masih ada pacarnya sekarang di antara kami. Benarkah perasaan ini?

Dan, akhirnya, aku menyadarinya ketika perjumpaan di gereja kala itu. Aku menyadari, mungkin akulah yang terlambat menyadari cintanya. Akulah yang menyianyiakan cintanya. Dan bahkan akulah yang teramat paling sangat menyakiti perasaannya, hingga ia cukup menderita hingga kini. Aku melihatnya sudah sangat bahagia dengan pilihannya sekarang. Dan, bukankah ini yang kuharapkan sebelumnya, agar ia bisa bahagia, walau itu bukan denganku?

Dan, timbul suatu pertanyaan, atau lebih lengkapnya sebuah pernyataan,  Ada dia Di Antara Kita, ATAU, Ada Aku Di Antara Kalian? Jawabannya kemungkinan besar yang kedua.

Maka aku memutuskan untuk merelakannya, intinya yang penting ia bahagia. Kebahagiaanku sendiri, biarlah dengan melihatnya tersenyum bahagia, walau bukan denganku. Itu saja. Kerelaan ini, dan penyesalan karena menelantarkan cintanya, akan kubawa sampai mati.

Kasih, penyesalanku ini, akan kubawa sampai mati.

Saturday, May 4, 2013

Bahan Renungan dan Refleksi: Garam dan Telaga

Bahan Renungan dan Refleksi: Garam dan Telaga >>> Kisah yang akan dipaparkan berikut ini dapat kita kategorikan sebagai bahan renungan dan bahan untuk merefleksikan diri. Dengan memahami renungan sederhana ini, kita bisa belajar tentang bagaimana kita menghadapi suatu permasalahan dalam hidup, karna namanya manusia biasa, sudah wajar jika hidup itu naik dan turun, ada suka dan duka, ada tawa dan tangisan, dan ada penyesalan serta kebahagiaan. 

Kisah berikut ini juga bukanlah kisah baru, hanya saja saya tertarik untuk membaginya kepada saudara sekalian, karena saya pernah membawa renungan ini menjadi bahan refleksi pada sebuah diskusi doa dalam basis saya. Mari kita simak saja ceritanya ...


Bahan Renungan dan Refleksi: Garam dan Telaga

Once upon a time, Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya menampakkan kekosongan dan keruwetan hidup yang ia alami. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

"Coba. minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.

"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu. sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang dengan cara mengaduk- aduk dan terciptalah riak-riak air yang mengusik ketenangan telaga itu.

"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah.Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi. "Bagaimana rasanya?".

"Segar", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak. Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Akan tetapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat.

"Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."


Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Sekian.

Yeah, terkadang kita selalu memandang sempit akan sebuah masalah atau perkara. KEtika kita menghadapi suatu masalah, kita mengkerdilkan sendiri diri kita dengan berfikir bahwa hanya inilah yang dapat saya lakukan, aku pasrah saja. Namun bukan itu yang kita mau, hati kita berkata lain. Maka lapangkanlah hati, buka hari selebar-lebarnya, sehingga masalah itu tampak lebih kecil dari pada semangat dan harapan dalam hati kita yang menggebu-gebu.

Cerpen Kisah Sedih Inspirasi: Mawar Untuk Ibu

Cerpen Kisah Sedih Inspirasi: Mawar Untuk Ibu >>> Kisah yang akan dipaparkan berikut ini bukanlah sebuah cerita baru, hanya sekedar ingin berbagi kepada saudara semua yang merasakan atau yang masih belum merasakan betapa berharganya ibu bagi kita. Kisah ini adalah kisah yang sangat menyentuh dan bisa menjadi bahan refleksi bagi kita sejauh mana kita sudah mencintai ibu kita.



Baiklah, kita mulai saja. Kisah ini dimulai oleh hadirnya Seorang pria yang berhenti di sebuah toko bunga. Ia rupanya ingin memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil,

"Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang 50 sen Euro saja, sedangkan harga mawar itu 3 Euro."


Pria itu tersenyum dan berkata.

 "Ayo ikut. aku akan membelikanmu bunga yang kau mau."

Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dengan semua transaksi dan hendak pulang ke rumah, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya,

"Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum. dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.



Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya, la mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

(diadaptasi dari: Rose for Mama - C.W. McCall)

Lihat, sederhana namun sangat menyentuh hati. Sudah sering kita mendengar ungkapan, Penyesalan selalu di belakang. Yeah, memang benar. Terkadang, kita baru menyadari arti dari orang-orang disekitar kita ketika kita sudah kehilangan. Kita menajdi menyesal dan marah pada diri sendiri karena tidak mampu untuk membahagiakan mereka yang sudah meninggal.

Untuk itu, selagi masih ada waktu, gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk menunjukkan kasih dan sayang kepada Ibu kita, Ayah kita, saudara kita, kakek nenek kita, pacar kita, suami kita, istri kita maupun anak-anak serta sahabat-sahabat kita. Lakukanlah sekarang sebelum kata terlambat terucap di bibir kita.

Thursday, January 12, 2012

CERITA DI HARI NATAL | PHILIPPINES STORY

Cerita Di Hari Natal.........

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya. Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut. “Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?”

“Ya, Bapa Pendeta!” balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut. Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”

“Terima kasih, Bapa Pendeta.” “Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?” “Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku.”

Ilustrasi: child praying anak yang sedang berdoa
Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

“Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini. Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar. Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa……. paling tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi. Tolong Tuhan.

Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu. Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya…..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.

Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku. Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang.” Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .

“Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!” Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif. Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat.

Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka. Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan..Aku..” “Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!” Andy begitu terkejut,”Dimana Bapa Pendeta Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah untukNya..”

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. “Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!” Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja.

……Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang – disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika……….

Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi. Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,”Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?” Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,”Dia adalah sahabatku.” Hanya itulah yang dikatakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan. Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy. “Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?” “Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Ucap ibu Andy terisak.

“Apa katanya?” Ayah Andy berkata,”Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.

“Apa yang dikatakan?” “Dia berkata kepada putraku..” Ujar sang Ayah. “Terima kasih buat kadonya. Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,”Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa… kecuali dengan Tuhan.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...